You Will Never Know Until You Try

By Assyaqinah B Masikki - June 06, 2020

Tulisan ini, dibuat pada tanggal 27 April 2017. Aku memposting ulang tulisan ini pada blog ini, karena blog sebelumnya atau yang biasa aku sebut first life sangat berantakan. Enjoy!



Akhirnya datang juga semester tiga di tahun kedua ini. Iya, semester yang sepertinya bakal sulit buat dilewatin apalagi sama tugas-tugasnya. Nggak boleh ngeluh tis mulai aja belum. Seperti biasa jadi anak planologi aka pwk itu nggak gampang, apalagi tugas-tugasnya. Semua mata kuliahnya mesti dikerjakan berkelompok. Mungkin hampir semua anak pwk pernah denger kalimat-kalimat ini

"Wah enak ya jadi anak pwk tugasnya dikit nggak ada hitungannya"
"Enaknya pang tugasnya dikerjain kelompok dikerjain sama-sama"
"Enaknya pwk jalan-jalan terus"

Hahaha be careful of what you say bro. It's not as easy as you thought. Mesti bikin critical review, artikel, tugas yang nggak ada abisnya, bolak balik asistensi,tes lisan dan mesti buat tugas besar, belom lagi ditambah kuis, uts, dan uas. Mungkin kalian bakal bilang, anak kuliah pasti ya semua begitu. Ya emang semua pasti mengerjakan yang kurang lebih kami kerjakan sebagai anak pwk aka planologi, tapi menurut aku semua punya pressure-nya masing-masing.

It sounds easy when you know that we work in group. Padahal nggak sama sekali apalagi kalau temen sekelompok yang sama sekali nggak mendukung. Buat kalian yang bukan anak pwk mungkin belom tau yang namanya susahnya survei. 

Ngebuat surat buat instansi yang mau didatangin buat dapetin data terus belum lagi kalau ditolak terus wilayah studinya jauh, capeknya survei lapangan ngehitungin rumah-rumah, lebar jalan, lampu jalan, datengin rumah-rumah orang, bolak-balik asistensi karena banyak yang nggak di acc, itu semua yang kami kerjakan.

Paling heboh waktu nyari temen sekelompok, tapi aku tetep biasa aja. Dosen yang menawarkan untuk mencari kelompok sendiri akhirnya ngebuat semuanya bersuara. Sebenernya nggak masalah dengan siapa saja bekerja tapi semuanya harus bisa tanggung jawab. Karena adanya pengalaman di semester satu dan dua semua jadi sadar. Jadi tahu siapa saja yang enak buat diajak bekerja sama buat ngerasain susahnya nyelesain tugas dan jadi tahu siapa saja yang bisa diandalkan. Hal semacam itu bakal didapatin waktu semester tiga. "milih-milih" temen buat dijadiin satu kelompok itu sangat terlihat. Kadang banyak juga yang frontal untuk tidak bersama si A atau si B. Apalagi kalau dosen minta buat milih sendiri. 

Kalau aku pribadi sebenernya sama siapa saja nggak masalah, tapi tetap berharap temen kelompok bisa diajak kompromi. Karena di semester satu dan dua sudah merasakan yang namanya kerja sendiri. Bukannya mau curhat tapi emang kenyataan.  

Buat yang ngira kalau anak pwk itu enak jalan-jalan terus kerjaannya, its all a big mistake. Bukan jalan-jalan enak yang keliling-keliling nikmatin pemandangan, tapi mesti ngeliat sekeliling buat nyari bahan laporan. Habis dapat data mesti lanjut buat laporannya, petanya, dan kawan-kawannya. Jadi, saran buat kalian yang mau jadi anak pwk mikir dulu deh sebelum masuk dan terjebak dengan kemalasan kalian sendiri.

Intinya, jangan nganggap semua hal yang belum pernah kalian lakuin itu sesuatu yang mudah dan kalian anggap remeh. Tapi jangan pernah mempersulit juga. You'll never know until you try.

Peace! 


  • Share:

You Might Also Like

0 comments